Kamis, 16 Januari 2014

Pelanggaran Hukum Terhadap Pelanggaran Etika

Pelanggaran adalah perbuatan yang dilarang oleh peraturan perundangan, tidak memberi efek langsung kepada orang lain.

Pelanggaran hukum berbeda dengan kejahatan, namun bisa juga dikenai sanksi seharusnya. Kejahatan adalah pelanggaran yang bukan hanya melanggar hukum perundang-undagan, tetapi juga nilai moral, nilai agama, dan rasa keadilan di masyarakat.

Etika sebagai sebuah nilai yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah laku di dalam kehidupan kelompok tersebut, tentunya tidak akan terlepas dari tindakan-tindakan tidak etis. Tindakan tidak etis yang dimaksudkan di sini adalah tindakan pelanggaran etika yang berlaku dalam lingkungan kehidupan tersebut.

Salah satu contoh dari pelanggaran hukum terhadap pelanggaran etika yang sering dilakukan adalah pelanggaran lalu lintas yang dianggap sepele dan ringan. Tercatat 589.127 kasus selama 2008 – 2009 yang dirangkum oleh data dari Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya atau dirata-ratakan 1.000 lebih pelanggaran yang terjadi dalam sehari. Dari angka tersebut, didapat data pelanggaran yang dilakukan oleh pengendara sepeda motor sebesar 60%, pelanggaran yang dilakukan angkutan umum lainnya sebesar 30% dan sisanya mobil pribadi sebesar 10%. Pada faktanya, angka yang dicatat oleh Polda Metro Jaya tersebut jauh lebih rendah daripada kenyataannya.

Menurut saya, pelanggaran hukum di lalu lintas yang dilakukan dikarenakan para pengendara kendaraan bermotor masih kurang beretika. Salah satu hal yang menyebabkan terjadinya tindakan-tindakan tidak etis menurut Jan Hoesada (2002) adalah Perilaku dan kebiasaan individu, tanpa memperhatikan faktor lingkungan di mana individu tersebut berada. Para pengendara sudah terbiasa menganggap remeh hukum dikarenakan penegak hukumnya pun kurang tegas. Pelanggaran ini dapat dicegah dan diminimalisir dengan adanya kesadaran beretika masing-masing individu, sehingga ada kerjasama antara masyarakat dan para penegak hukum.