Selasa, 08 Januari 2013

Resensi Novel "Perahu Kertas" karya Dewi Lestari


1.      Identitas Buku
a.       Judul buku                 : Perahu Kertas
b.      Penulis                       : Dee/Dewi Lestari
c.       Penerbit                     : Bentang Pustaka & Truedee Pustaka Sejati
d.      Cetakan pertama        : Agustus 2009
e.       Tebal                          : xii + 444 hlm
2.      Judul Resensi
Perahu Kertas : Menyatukan Hati lewat Dongeng, Lukisan, dan Radar Neptunus.
3.      Ringkasan Cerita
Kugy merupakan gadis belia yang meneruskan sekolah sastranya di Bandung, bersama dua sahabatnya yaitu Noni dan Eko, serta seorang teman kecil Eko  yang baru pulang dari Belanda, Keenan. Dengan radar neptunus, Kugy bisa menemukan Keenan saat Kugy, Noni, dan Eko menjemputnya di Stasiun Bandung.
Kugy merupakan penulis yang handal dan sangat menyukai Origami yang ia buat dalam bentuk Perahu Kertas, sedangkan Keenan adalah pelukis handal yang dipaksa ayahnya utnuk sekolah Ekonomi di Bandung. Karena sama-sama dapat merasakan kekuatan Seni dan “Radar Neptunus” khas Kugy, maka Keenan direkrut menjadi Agen Neptunus oleh Kugy.
Sifat Kugy yang kurang terbuka membuat Noni memperkenalkan Keenan dengan seorang wanita bernama Wanda, walaupun pada saat itu Keenan sedang dekat dengan Kugy, tapi Kugy sudah memiliki kekasih di Jakarta yang bernama Joshua.
Wanda yang kebetulan merupakan anak dari pemilik museum lukisan membuat Keenan mempunyai jalan untuk mulai menjual lukisannya. Kabar baik pun datang bahwa ketiga lukisan Keenan berhasil dijual, namun ternyata itu hanya kepalsuan yang dibuat Wanda. Padahal saat itu Keenan sudah memberitahu keluarganya untuk berhenti sekolah Ekonomi dan fokus pada melukis, tentu saja hal ini membuat ayah Keenan merasa Gerang dan akhirnya mengusir Keenan.
Keenan pun menyerah, Ia telah kehilangan segalanya termasuk Kugy yang tak bisa menerima kenyataan bahwa Ia berhenti kuliah dan berhenti melukis, padahal keduanya sudah berencana untuk membuat dongeng bersama, dimana Kugy sebagai penulis dan Keenan merupakan illustrator gambarnya.
Akhirnya Keenan menetap di Bali, di tempat Pak Wayan yang tak lain adalah teman dari Ibu Keenan. Disana Ia belajar melukis secara professional, dibimbing oleh Lude, keponakan Pak Wayan, dimana itu menjadi awal kedekatan mereka. Lukisan pertama Keenan berhasil dibeli oleh Remi, yang tak lain ternyata bos ditempat Kugy bekerja setelah lulus kuliah.
Masa-masa kuliah sudah berkahir, Kugy sudah menjadi karyawan tetap di kantor Advocado milik Remi, Keenan makin sukses sebagai pelukis, Noni dan Eko pun memutuskan utnuk menikah, diacara pernikahan inilah Kugy dan Keenan kembali dipertemukan.
Genk Pura-Pura Ninja yang dibentuk Kugy semasa kuliah dulu pun kembali berkumpul. Keesokan harinya, Keenan mengajak Kugy ke pantai dan kemudian berkunjung ke Sakola Alit. Sakola Alit adalah sekolah yang dibentuk oleh temannya Kugy untuk anak-anak kecil di pedesaan di Bojong Koneng, dimana Kugy direkrut sebagai gurunya, namun sayang Sakola Alit sedang digusur untuk dijadikan pemukiman.
Pergi beberapa hari tanpa memberi kabar membuat Remi yang sudah menjalin hubungan dengan Kugy menjadi cemas, begitupun dengan Lude di Bali yang merasa kehilangan Keenan. Tanpa sengaja, Keenan bertemu Remi di sebuah tempat yang berlanjut menjadi pertemuan-pertemuan sengaja di kantor ayahnya Keenan. Begitupun dengan Kugy dan Lude, mereka tidak sengaja bertemu saat kantor Remi mengadakan wisata bersama ke Bali.
Tentu saja bangkai tak selamanya bisa ditutupi, akhirnya terungkaplah masa lalu Kugy dan Keenan oleh Remi dan Lude. Hal ini membuat Remi akhirnya melepaskan Kugy, dan Lude mengikhlaskan Keenan. Tentu saja tak salah lagi, akhir cerita akhirnya Kugy dan Keenan kembali bersama. Remi yang sempat mengacuhkan Siska yang bukan lain adalah bawahannya, akhirnya mereka juga bisa bersama. Masih ingat Wanda? Wanda juga sudah memiliki kekasih baru.
4.      Pertimbangan
Kelebihan dari novel ini adalah banyak imajinasi baru yang diciptakan Dee, diantaranya adalah Radar Neptunus, menulis surat pada Perahu Kertas dan kemudian melayarkannya ke tenagh lautan dengan maksud agar perahu kertas itu bisa berlabuh. Ceritanya sangat remaja sekali, sepertinya tidak ada adegan yang harus disensor, sehingga siapapun bisa membaca novel ini atau melihat filmnya yang sudah tayang dilayar lebar. Namun ternyata dibalik kesempurnaannya, novel ini masih mempunyai kekurangan, yaitu tak ada peran antagonis yang ditonjolkan, serta saking sederhananya, pembaca bisa menebak suatu pertemuan yang tidak disengaja, bahkan endingnya.
5.      Simpulan
Secara Keseluruhan, novel ini sudah sangat bagus, imajinatif, dan sangat layak untuk dibaca. Tak salah bila novel ini sudah dijadikan Film oleh Hanung Bramantyo yang dibintangi oleh Maudy Ayunda dan Adipati Dolken. Namun bagi yang belum pernah membaca novel ini, sangat dianjurkan untuk membacanya, karena segala keanehan Kugy dan Keenan bisa menjadi inspirasi hidup kita loooh ;)