Rabu, 26 Desember 2012

PENGARUH STRATEGI PENJUALAN TERHADAP PENINGKATAN PENJUALAN DAN KEPUASAN PELANGGAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang                                            
Di era globalisasi ini, pekembangan tekhnologi mendorong bangsa Indonesia ke tahap yang lebih modern. Komputerisasi yang membuat manusia kini menjadi semakin lebih “autis” terhadap gadget-gadget yang hadir dengan cepat, kemajuan ekonomi yang terjadi malah membuat kesenjangan ekonomi semakin menjadi-jadi, seperti kata pepatah “yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin”, harga-harga yang semakin melonjak juga membuat biaya kebutuhan kahidupan semakin tinggi, baik itu ditinjau dari sisi sandang, pangan, bahkan pendidikan. Kondisi seperti inilah yang membuat bangsa Indonesia semakin hidup masing-masing, sibuk dengan urusan pribadi, dan semakin lupa akan adanya adat-istiadat dan hukum budaya yang sudah dipertahankan oleh leluhur kita.
Bahkan, bisa dipastikan anak-anak yang lahir pada zaman millennium ini tidak mengenal kehidupan tradisional yang pernah ada, dan seharusnya tetap ada. Terkecuali bagi meerka yang memang sudah terlahir di daerah-daerah pedalaman, seperti kampung-kampung atau pedesaan. Karena attitude  seorang anak pasti mengikuti bagaimana kehidupan orangtuanya, bila dilahirkan di keluarga kaya raya sudah pasti dia akan bergaya hidup modern, dan bila dilahirkan di keluarga sederhana sudah pasti tidak bisa memaksakan keadaan, yaa walaupun saat ini banyak sekali remaja-remaja kurang mampu yang tidak tahan melihat keadaan modern. Hal ini semakin menambah tingkat keyakinan saya (sebagai penulis dan peneliti) bahwa kini budaya tradisional terancam punah tergeser oleh modernisasi.
Padahal kita sebagai penerus bangsa Indonesia seharusnya bangga dengan kebudayaan negara Indonesia dan harus tetap mempertahankan tradisi bangsa. Tapi melihat keadaan negara yang seperti ini, mungkin beberapa orang akan merasa pesimis, jangankan untuk mempertahankan, mungkin memperkenalkan atau sekedar mengingatkan tentang tradisi yang dimiliki bangsa Indonesia pun sudah merasa malu, karena saat ini yang sedang booming adalah budaya western (kebarat-baratan), dan tentunya koreanisme yang membawa virus boyband, girlband, k-pop, dan segala macamnya ke tanah air.
Lalu bagaimana caranya agar kebudayaan negara Indonesia tidak semakin menipis dalam ingatan bangsa Indonesia? Sebetulnya banyak cara, tapi yang menentukan berhasil atau tidaknya dalah strategi yang digunakan. Bisa saja merangsang secara perlahan melalui musik tradisional yang di mix n match dengan musik modern, seperti contoh saat ini ada rapper-rapper yang menggunakan bahasa tradisional dalam membawakan lagunya. Bisa juga dengan kreatifitas melalui pembuatan film animasi misalnya, seperti kartun si unyil, atau lain kali setiap daerah mempuyai kartun yang menceritakan kebudayaannya masing-masing. Bisa juga dengan fashion, seperti halnya hijab yang dapat membuat banyak wanita mau menggunakan jilbab, jika kita mempunyai jiwa kreatifitas yang tinggi, tentu saja kain khas Indonesia, yaitu batik, bisa diminati banyak orang, daripada kita menyesal batik di klaim negara lain, lebih baik kita sendiri yang mengembangkan dan memajukannya hingga ke kancah dunia, dengan begitu, pasaran batik di Indonesia pun pasti akan melesat.
Tapi jika saya perhatikan, strategi yang paling tepat saat ini untuk membuat kecintaan bangsa Indonesia terhadap budaya bangsa tidak kian luntur, adalah melalui bisnis makanan. Melihat situasi penduduk bangsa Indonesia yang rata-rata mempunyai jiwa konsumtif, hal ini mendorong saya untuk membuka usaha “SERABI”. Bagi masyarakat sunda, mungkin nama kue ini sudah tidak asing lagi, walaupun untuk dapat memakan kue soerabi (bisa dibaca surabi, atau serabi) ini, mungkin agak susah untuk menemukan pedagang yang menjajakan cemilan khas jawa barat ini.
Malah benar saja, banyak anak-anak kecil dan remaja yang tidak mengenal kue ini, padahal kue ini adalah kue khas jawa barat yang tidak diragukan lagi merupakan hasil daripada kebudayaan tradisonal suku sunda. Ketika dijelaskan cara pembuatannya, mereka malah mengira bahwa soerabi itu adalah pancake yang jelas-jelas dari namanya saja pan = penggorengan; cake = kue, sudah pasti berasal dari bahasa Inggris. Yak! Lagi-lagi modernisasi telah menginfus otak para penerus bangsa.
Maka dari itu, untuk membuat agar makanan khas sunda ini kembali dikenal, saya harus mempunyai strategi yang matang dalam pengolahannya, pelayanannya, serta penyajiannya agar diminati untuk takaran abad 21.
                      
1.2  Tujuan
  •  Untuk memenuhi tugas SoftSkill Bahasa Indonesia 2 dari Ibu Desi Restiani
  •  Untuk menumbuhkan kembali ingatan bangsa Indonesia terhadap makanan tradisional dengan cara mendirikan usaha kuliner serabi
  • Agar bisa menentukan simpulan dari hipotesa sementara penulis







BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Hipotesa
Serabi kadang disebut srabi atau surabi merupakan salah satu makanan ringan atau jajanan pasar yang berasal dari Indonesia. Serabi serupa dengan pancake (pannekoek atau pannenkoek) namun terbuat dari tepung beras (bukan tepung terigu) dan diberi kuah cair yang manis (biasanya dari gula kelapa). Kuah ini bervariasi menurut daerah di Indonesia. Daerah yang terkenal dengan kue serabinya adalah Jakarta, Bandung, Solo, Pekalongan dan Purwokerto yang masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Ada juga surabi Arab yang terkenal karena keunikannya yang terdapat di kota bogor.
                                                                                           

Dalam mengembangkan usaha ini, saya tidak akan membuat serabi se-tradisional mungkin, namun akan me-modernisasikannya dengan cara :
1.     Mengubah tampilan serabi dengan menawarkan banyak varian rasa namun tidak merubah bahan utamanya, seperti serabi spaghetti lada hitam, serabi ayam panggang keju, serabi pizza, serabi donat, serabi es duren, dll.
2.      Memberikan harga yang sewajarnya, sehingga serabi ini dapat dijamah berbagai kalangan, misalnya :
Serabi spaghetti lada hitam                             Rp 10.000
Serabi ayam panggang keju                            Rp 10.000
Serabi pizza                                                     Rp  9.000
Serabi donat                                                    Rp  6.000
Serabi es duren                                                Rp  7.000
3.    Membuat tempat makan se-modern mungkin, misalnya berada di tempat yang strategis, dilengkapi dengan fasilitas wifi, bentuk gedung yang unik, tempat makan yang bersih dan nyaman, ruangan ber-AC dan Smoking Area, tempat parker yang luas, dan dekorasi cantik yang membuat konsumen tidak hanya menikmati serabi namun juga merasa betah dan ingin berkunjung kembali.
4.    Pelayanan modern, seperti tempat makan lain yang sudah modern (pizza hut, McD, KFC, Dunkin Donuts) saya juga akan membuat layanan pesan antar, ini akan memudahkan konsumen jika merasa malas untuk keluar rumah namun tetap ingin menikmati serabi. Serta layanan online, akan ada website tentang tempat makan serabi ini, sehingga konsumen dapat menemukan outlet-outlet terdekat dengan mudah dan bisa mengetahui price-list dan menu terbaru apa saja yang sedang recommended, didalam website juga akan terdapat contact person untuk konsumen yang mau booked (pesan meja untuk acara besar, seperti perayaan ulang tahun, buka puasa bersama, atau acara lainnya).
                                 
Hipotesa penelitian : Jika strategi diatas dijalankan dengan baik, maka akan membuat tingkat penjualan soerabi dan kepuasan pelanggan pun meningkat
                                                           
Hipotesa Nol (H0)           =Tidak terdapat peningkatan penjualan Soerabi dan kepuasan
 pelanggan.
     Hipotesa Alternatif (H1)    =Terdapat peningkatan penjualan Soerabi dan kepuasan pelanggan.
                                                                                                                                             
2.2  Uji Hipotesa
Berikut adalah data untuk mengetahui hubungan antara strategi penjualan dengan tingkat penjualan dan kepuasan pelanggan :
Strategi Penjualan
Tingkat Penjualan
Kepuasan Pelanggan
Total
Dijalankan < 25%
13
a)   10,78
4
b)      6,22
17
Dijalankan >= 50 %
40
38,06
20
21,94
60
Dijalankan >= 75%
70
66,6
35
38,4
105
Dijalankan = 100%
99
106,56
69
61,44
168
Total
222
128
350
Dengan menggunakan uji Chi-Square :
α = 50%
Dk = (2-1) (4-1) = 3
Frekuensi harapan :
a)      222 * 17          = 10,78
   350
b)      128 * 17          = 6,22
   350
X² Tabel    = 2,366
X² hitung   = (oij –eij)²
                         eij
Strategi Penjualan
Tingkat Penjualan
Kepuasan Pelanggan
Dijalankan < 25%
(13-10,78)² / 10,78      = 0,46
(4-6,22)² / 6,22            = 0,79
Dijalankan >= 50 %
(40-38,06)² / 38,06      = 0,1
(20-21,94)² / 21,94      = 0,17
Dijalankan >= 75%
(70-66,6)² / 66,6          = 0,17
(35-38,4)² / 38,4          = 0,3
Dijalankan = 100%
(99-106,56)² / 106,56  = 0,54
(69-61,44)² / 61,44      = 0,93
Total
                                       1,27
                                       2,19

Jadi, 1,27 + 2,19 = 3,46
X² Hitung > X² Tabel = Ha/H1 DITERIMA




BAB III
SIMPULAN
Dari hasil uji hipotesa dengan menggunakan Chi-Square, dapat disimpulkan Ha/H1 diterima, yang artinya, jika strategi penjualan dijalankan dengan baik, maka akan terjadi peningkatan penjualan dan peningkatan kepuasan pelanggan.
Jadi, simpulan dari karangan ilmiah ini adalah usaha “Serabi” merupakan bidang usaha makanan yang akan memberikan peningkatan penjualan dan kepuasan pelanggan bila wirausahawan mengetahui strategi penjualan yang baik. Selain itu, dengan membuka usaha Soerabi ini berarti kita semua telah bersama-sama mengembangkan kembali salah satu kuliner khas Indonesia serta membantu menghidupkan lagi tradisi dan budaya bangsa ditengah-tengah abad modern.