Jumat, 27 April 2012

Sepenggal Kisah Yang Mungkin Tak Kau Ketahui Maknanya (Part II)

Adalah Dicky Azela. Seseorang yang selalu membuat saya semangat untuk segera berangkat ke sekolah dan ingin cepat kembali ke rumah. Dia lah satu-satunya orang yang dapat dikatakan, mengurangi beban saya. Ketika saya tidak punya apa-apa, bahkan 1 perak pun, ada dia yang sudah pasti bisa membuat saya pergi ke sekolah. Tak peduli dengan motor nya yang membuat saya kedinginan di pagi hari, atau dengan mobilnya yang membuat saya terkantuk-kantuk sepanjang perjalanan.

Ketika teriknya matahari menyengat kulit, saya tak peduli, asal bisa sampai rumah dengan selamat dan … bahagia tentunya, karena bertemu dengannya adalah suatu kesenangan yang membuat hari-hari saya berwarna sebelum akhirnya saya harus dipenjarakan tuntutan orang tua dan orang lain. Dia tahu bahwa semua keluarga saya membencinya, tapi dia tetap mencintai saya sepenuh hatinya dan selalu menerima ketika dia harus dicemoohkan dan disalahkan oleh berbagai pihak. Saya pun tak bisa menjauhi dia, karena hanya dia yang dapat mengerti dan setia mndengarkan semua cerita saya. Meskipun saya harus menentang keluarga saya, namun saya hanya memilih orang-orang yang bisa membuat saya nyaman.

2 tahun dekat dengannya merupakan sebuah perjalanan hidup yang akan menjadi kisah berkepanjangan seumur hidup saya, seperti yang sudah saya bahas disini, dia adalah cinta pertama saya. Orang pertama yang membuat saya mengerti bagaimana caranya mencintai orang lain. Walaupun saya tak pernah muluk-muluk dan tak bisa memberikan apapun padanya, bahkan dalam keterbatasan waktu yang saya punya, dia tetap setia menemani saya.

Kesabaran memang tak ada batasnya, namun manusia-lah yang menciptakan batas, hingga akhirnya, kesetiaan yang selama ini saya lihat dan saya rasakan, ternyata hanyalah topeng. Dimana wajahnya yang manis, ternyata hanyalah bualan. Rasanya diduakan itu sangat sakit, dan fatal bagi saya. Apa ini yang dirasakan ibu saya?

Ternyata keindahan yang dijalani berdua selama ini hanyalah kebejatan pada akhirnya. Dan saya tak pernah menyesal untuk meninggalkan segala kenangan indah itu walapun saya tak bisa melupakannya. Dan ini membuat saya kembali menyatakan bahwa tak selamanya lelaki bisa bertanggung jawab dan tak selamanya pula wanita bisa membuat laki-laki bertanggung jawab. Saya sadar, banyak sekali kekurangan pada diri saya, sehingga wajar apabila banyak pula yang lebih baik dari saya.

Namun yang saya benci, mengapa harus dia yang membuat kehidupan saya semakin kacau?? Trauma akan laki-laki membuat saya semakin tak bisa mempercayai mereka. Dilihat dari segi negatifnya, saya tak pernah bisa 100% percaya ada laki-laki, meskipun mereka membuat seribu janji yang seharusnya meyakinkan saya. Lalu bagaimana bila saya harus menikah? Dan bila dilihat dari sisi positifnya, hal ini membuat saya semakin semangat untuk terus belajar agar saya bisa hidup mandiri, agar saya tak bergantung dan merepotkan manusia yang disebut laki-laki.

‘Tuhan, salahkan sikap saya ini? Bila salah, mengapa kau harus memberiku takdir yang semua orang menganggapnya remeh?’.

Saya selalu ingin menangis ketika tmendengar ocehan-ocehan dan omelan mereka yang tak pernah menjadi saya. Sungguh bahagia hidup mereka ketika yang mereka tahu, kami hanyalah anak yang tak berbakti pada orang tua. Saya pernah merasakan kebahagiaan, namun jangan sudutkan dia yang belum pernah tahu apa itu bahagia. Dia adalah wanita yang tegar walaupun usianya jauh dibawah saya. Dia memang berwatak keras, namun tak sekeras dia yang lain, dia yang bisanya hanya menghancurkan mimpi-mimpi indah suatu kelurga.

Dia adalah adikku tercinta. Yang semasa hidupnya sudah terbiasa dimarahi ayah, padahal saya tak pernah dimarahi ayah. Yang semasa hidupnya hanya sebentar saja disayang-sayang ibu, padahal saya dulu sangat sering disayang ibu, 2 tahun ini pun selama menempuh perjuangan di bangku kuliah, saya tahu bahwa ibu sangat menyayangi saya. Mengapa dunia ini begitu keras untuk anak sekecil dia? Dan lagi-lagi hal inilah yang membuat saya ingin cepat-cepat menyelesaikan kewajiban saya sebagai penerus bangsa, agar saya bisa merawat dan menyayanginya.

Yah,, inilah hidup! Dan bila tak begini, mungkin saya tidak akan bertemu wajah-wajah baru yang membuat perjalanan hidup saya semakin berwarna. Saya selalu belajar untuk menerima meskipun berat. Dan merekalah yang membuat saya selalu bersemangat. Bersambung ..