Selasa, 10 April 2012

Sepenggal Cerita Yang mungkin Tak Kamu Ketahui Maknanya


Manis pahitnya kehidupan sudah saya rasakan dan menjadikan hidup saya semakin berwarna. Berbagai masalah, cobaan, kebahagiaan dari berbagai sudut dan elemen hidup sudah pernah saya jalani dan pastinya masih saya alami sampai hari ini.
Masalah keluarga yang tak ada habisnya, membuat saya semakin kuat dalam menghadapi segala tantangan yang ada di depan mata. Perjuangan untuk melawan nasib memang sulit. Perceraian orang tua yang terjadi 9 tahun silam tak pernah menyurutkan semangat saya untuk terus bertahan dan berusaha mewujudkan cita-cita saya. Namun tentu saja semua hal yang terjadi di kehidupan saya, tak pernah luput dari trauma masalah internal ini.
Saya tak menyalahkan siapa-siapa, karena mungkin semua memang salah, atau semuanya benar, karena ini merupakan suratan dari yang maha kuasa. Kami sebagai manusia hanya menjalankan apa yang memang sudah digariskan.
Namun berat rasanya hidup harus dibayang-bayangi trauma masa lalu. Sulit bagi saya harus menghadapi kenyataan bahwa laki-laki memang tak selamanya bertanggung jawab dan wanita tak selamanya dapat membuat laki-laki bertanggung jawab. Apalagi saya juga harus menerima orang-orang baru didalam keluarga saya. Mempunyai banyak saudara itu memang asyik, tapi tidak untuk saudara yang tidak diharapkan walau pada dasarnya kami semua bersaudara.
Hidup satu atap bersama orang yang tidak pernah kami kenal sebelumnya, bahkan tidak pernah kami harapkan kehadirannya merupakan satu cobaan hidup dimana orang lain belum tentu bisa menghadapinya. Dan hidup berlainan rumah dalam jarak yang sangat jauh dengan orang yang sangat kami cintai bukanlah sesuatu yang mudah. Banyak hal yang harus diadaptasi ulang, banyak kebiasaan baru dan tak sedikit juga kami harus menghilangkan beberapa kebiasaan lama.
Sedih sudah pasti. Karena saya tak pernah membayangkan sebelumnya merasakan penderitaan berkepanjangan selama bertahun-tahun yang hanya dibayar (lebih tepatnya mungkin ‘disogok’) hanya dengan waktu 2 tahun.
Memang perkataan seorang ibu tidak pernah ada yang meleset, makanya tak menjadi salah jika ada peribahasa “Surga Dibawah Telapak Kaki Ibu”. Dan penyesalan memang selalu datang belakangan. Sesal yang berakibat fatal hanya karena sempat tidak percaya kepada seorang Ibu. Perkataannya yang menggambarkan kehidupan kami sekarang, dulu kami anggap sebagai lelucon belaka. Karena dia, orang lain itu, menghipnotis kami seakan-akan dia, ya orang lain itu, menyayangi kami. Padahal setelah dia, ya orang lain itu, mendapatkan apa yang dia inginkan, kami merasa terpenjara dalam tipu muslihat yang kami nikmati sebelumnya.
Ini yang membuat saya ingin sekali segera keluar dari rumah itu. Rumah mewah dengan segala isinya yang membuat orang lain menganga dan iri ketika memasukinya. Rumah yang mempunyai segalanya yang seharusnya membuat kami nyaman dan betah diam berlama-lama disana. Namun memang tak selamanya yang mewah itu indah.
Saya dengan segala keterbatasan dan berjuta-juta aturan dari sang pemilik rumah harus bisa menelan hambarnya air liur yang setiap hari menemani kesibukan saya. Kami harus terjaga sebelum adzan subuh berkumandang dan tetap terjaga sampai 1/3 malam. Bukan untuk kami, tapi untuk dia, ya orang lain itu.
Ingin rasanya waktu berlalu dengan cepat setiap harinya, namun saya tak mau melewatkan waktu yang sangat singkat di sekolah. Karena sekolah adalah satu-satunya tempat yang bisa membuat saya merasa nyaman dan bahagia. Dimana saya bisa melepas segala kepenatan bersama teman-teman yang mencintai saya dan guru-guru yang bisa menjadi orang tua saya yang baru. Saya selalu ingat bagaimana rasa dan suara dari hembusan angin pagi menyisir dedaunan didepan kelas, sungguh menyejukan hati, karena saya selalu datang sebelum jam 06.30. saya selalu ingat bahwa saya mempunyai teman-teman yang mengerti saya dan mereka selalu ingat hari ulang tahun saya dimana saat itu keluarga saya pun tak merayakannya. Adalah Yoga Nur Budianto, Putri Ekandini, Setya Aji Pratama, Nopika Restya Noor, Nela Royani, Rendy Pratama, Fitri Fadhillah, Shera Ardiyanti, Nenden Sylvie Yuliani, Astri Arsita, dan Dede Ari.
Sampai saat ini hanya kenangan bersama merekalah yang bisa membuat saya menangis. Bukan karena kesedihan, tapi karena terlalu banyak kebahagiaan yang mereka berikan untuk saya, sehingga saya teramat sedih ketika harus merelakan waktu-waktu itu berlalu begitu cepat. Sungguh sebuah keegoisan ketika saya menyesal waktu tak bisa diputar kembali.
Selain teman-teman, ada para orang tua baru, yaitu para guru yang selalu memotivasi saya dan menjadi inspirator saya bahwa saya bisa menjadi ‘lebih’ dari mereka. Adalah Kusnaedi, Agus Ramdan, Dudung Koswara, Bapak Tantan, Ibu Reni, dan Ade Fathurahman. Tanpa mereka, mungkin saya tak bisa setegar ini. Mungkin saya tak berada disini, disebuah kamar yang sudah 2 tahun ini saya sebut tempat tinggal padahal ini hanyalah sebuah kost-an. Ya, saya merantau dan pergi jauh dari keluarga supaya saya lebih tenang belajar dan tetap fokus pada masa depan, itu semua karena merekalah yang membimbing langkah saya sehingga saya tahu bahwa yang saya ambil ini tidaklah salah. Terimakasih guru.
Tapi mereka hanya tahu apa yang aku ceritakan, selebihnya, hal-hal yang aku sembunyikan, mereka tak akan pernah mengerti dan mungkin tak mau mengerti, karena mereka pun memiliki urusan masing-masing, bila mereka harus menjadi saya, terlalu banyak pekerjaan mereka yang harus terabaikan. Karena hidup saya begitu komplikasi.
Beruntunglah saya mempunyai seseorang yang selalu menemani hari-hari saya walaupun keluarga saya sangat membencinya, namun dia tetap berdiri tegak dan selalu menopang saya ketika saya terjatuh. Namun dia juga lah yang membuat trauma di masa lalu saya tak kunjung padam.

NEXT PART