Selasa, 03 April 2012

Saya dan Suka Duka kuliah

Saya adalah seseorang yang bisa dikatakan sangat selektif dalam memilih teman main (maksudnya teman 1 genk), jadi apabila teman main saya itu bukan termasuk orang-orang yang ‘asik’ (yang kepribadian dan pendapatnya agak-agak sejalan lah sama saya), mereka tidak akan pernah menjadi teman belajar saya. Dan saya memang lebih suka mengerjakan hal apapun seorang diri, daripada harus bermai-ramai bersama orang-orang yang lebih suka “merecok” dan akhirnya hasilnya pun tidak optimal. Sehingga ini menyulitkan saya ketika harus mengerjakan tugas kelompok. Saya yang tidak suka dengan kebisingan, otomatis saya tidak bisa berkonsentrasi bila saat mengerjakan tugas harus ada suara-suara yang mengganggu (pengalaman : seperti suara para penggosip, suara musik, dan suara sms walaupun hanya berbunyi “trett!”, tetap saja jika didengar berulang-ulang akan membuat saya jeraaaaaaa -.- ), apalagi bila ada salah satu atau salah dua, salah tiga, dan salah-salah berikutnya dari anggota kelompok yang kerjaannya hanya bisa “merecok” (giliran disuruh apa-apa, alasannya “aduuuh gak bisa!” atau “aduuuh apa sih nggak ngerti ah! Lo aja deh yang ngerjain!” atau “gue bagian cover sama kata pengantar aja yah” .. gubrak!!!). maka dari itu, saya sangat senang dan sangat berterima kasih bila seandainya tugas kelompok itu ditiadakan saja (HAHAHAHA #ketawa ala penjahat), bukan karena apa-apa, tapi karena ternyata mencari teman yang satu arah dengan kita, sangat sulit!

Namun, bukan berarti saya tidak punya teman belajar. Dari semester 1 saya mempunyai teman yang bisa menjadi teman belajar, sekaligus teman sharing. Linda Susilowati namanya (nama panggilan : EMAK). Dari semester 1 kami sudah bersama-sama dalam 1 genk, yaitu genk Unyu (penting gak sih disebutin segala nama Genk yang tak resmi itu?), awalnya kami ber-enam. Saya, Linda, Desi, Puri, Nina, dan Vira. Namun karena begitu banyak perbedaan diantara kita, sehingga kami pun makin kesini malah makin berpencar. Tapi saya dan Linda tidak pernah berpisah. Selain karena kami kost dalam satu wilayah, pemikiran kami pun keseringan 1 arah dan itu membuat saya semakin sering share masalah pelajaran dengan dia. Jadi walaupun ada tugas yang menumpuk, satu-satunya orang yang saya hubungi untuk menanyakan bila ada kesulitan, pastinya dia. Dan kami pun kembali bersama di kelas yang sama pula, yaitu 2EB01, yaaa dengan IPK dia yang tingginya menyerupai saya, ini menandakan bahwa otak kami “gak jauh-jauh amat” (hehe).

Sebagai anak kost yang mandiri (saking mandirinya sampe-sampe lupa pulang harap jangan ditiru), selain dibebani dengan tugas, pasti dibebani dengan setumpuk fikiran mengenai “UANG JAJAN”. Sering saya merasa pusing sendiri (mungkin bahasa gaulnya adalah GALAU), ketika sedang dibuat resah oleh tugas, uang di kantong pun kian menipis, dan di ATM sudah hampir kering (yaaa sisa saldo 5 ribu lah). Tentu saja ini sangat mengganggu fikiran yang sedang kacau, dibikin kacau. Akhirnya berimbaslah pada badan yang dulu pipi disebut bakpao, sekarang kurus lurus bak iwak peyek (buktinya semester 3 kemarin saya turun 3KG). bukan masalah uang jajan yang kurang sebenarnya, tapi masalahnya lebih kepada biaya makan yang sangat mahal (masalah biaya hidup sebagai anak kost sudah pernah saya bahas sebelumnya). Karena sebagai mahasiswa/i, tidak hanya mengeluarkan uang untuk jajan saja, tapi sering sekali harus mengeluarkan uang untuk fotocopy lah, nge-print lah, beli alat tulis lah, dll. Sedangkan para orang tua tidak memperhatikan bagian terkecil itu yang sebenarnya lebih rutin dilakukan.

Disinilah betapa pentingnya peran seorang sahabat. Dari sekian juta teman saya di kampus, hanya ada 1 manusia yang bisa saya nobatkan sebagai sahabat saya (bayangkan! Jadi teman belajar saja susah, apalagi menjadi sahabat saya? Itu berarti oran ini telah lulus dalam berbagai criteria), dan orang itu adalah Yully Kurniawati (nama panggilan : NYIA). Dia dulunya mahasiswi Gunadarma jurusan Manajemen, 1 angkatan dengan saya, namun karena banyak faktor akhirnya dia cuti dan memilih bekerja sebagai salah satu SPG produk rokok. Namun semua itu tidak mengganggu persahabatan kami. Saya sangat membutuhkan dia, karena hanya dia yang bisa mendengarkan celotehan saya tentang hal-hal diluar kegiatan dan kebutuhan kuliah saya (seperti : masalah pacar, begini-begini juga saya termasuk perempuan yang sering galau. Masalah keluarga, saya adalah anak Broken-Home itu sebabnya saya sangat nyaman dan betah di kosan. Dan masalah teman-teman yang beragam). Walaupun perbadaan diantara kami sangat menonjol, namun untuk masalah-masalah seperti yang saya ungkapkan diatas, dia sangat mengerti dan selalu membenarkan saya apabila saya salah, dan mendukung apabila saya benar. Memang antara kami, dia usianya lebih tua 1 tahun dari saya. Sehingga mungkin hal itu yang membuat dia tampak dewasa dan sering mendewasakan saya yang masih sering terlihat seperti bocah. Dan dia bukan hanya bermanfaat untuk masalah “curhat”, tapi juga bermanfaat ketika uang jajan saya sedang sakaratul maut, kepada dialah saya akan meminjam uang (hehe). Apalagi saat ini saya sedang kost 1 kamar berdua dengan dia, otomatis ketika dia pulang kerja (sekitar jam 12 malam), dia akan membawakan saya makanan. Yaa walaupun kost berdua ternyata kadang membuat saya kesal, namun itu semua tertutup dengan eratnya persahabatan kami sampai hari ini J

Sebenarnya sampai hari ini suka duka saya sebagai mahasiswi yang kost, tidak begitu berat, karena mungkin masih awal-awal kuliah. Tugas tak pernah berat, tapi banyak. Makanya sering sekali saya menyalakan laptop untuk mengerjakan tugas kalau sebelum-sebelumnya untuk online dan online. Namun tetap saja saya memerlukan refreshing, karena ternyata jadwal kuliah makin kesini makin padat. Semester 4 ini saya tidak libur sama sekali. Praktikum berurutan di hari kamis, jum’at, sabtu, dan itu membuat saya muak karena membaca materi dalam waktu berdekatan itu sangatlah merepotkan.

Tapi saya tetap dan selalu berdoa untuk rekan-rekan saya (dan seseorang) yang sedang berjuang di semester 8 ini, semoga skripsinya lancar, dosen pembimbingnya tidak menyebalkan, dan bisa lulus tepat waktu, aamiin. Mugkin mulai semester 6 kesana saya akan merasakan kepenatan dan kegilaan seperti mereka. Untuk saat ini, saya masih sangat senang dan santai-santai saja dalam menjalani kuliah (itu adalah bagian dari suka-suka kuliah), tugas kuliah yang semakin banyak, laporan praktikum yang harus ditulis tangan sampai menghabiskan 1 lembar polio bergaris, jumlah praktikum yang semakin banyak dan padat (5 praktikum) memaksa saya untuk HARUS membeli banyak kemeja (yaaaah mungkin ini adalah bagian dari duka-duka kuliah). Tapi saya harus tetap menjalani semua ini, karena kuliah adalah pilihan saya. Saya yakin hasil kuliah saya ini tidak sia-sia. Nantikan kelanjutan dari pengalaman “suka duka kuliah” saya yaaah J

Terima kasih sudah mau membaca.