Jumat, 25 November 2011

Perbedaan antara cinta pertama dan cinta terakhir

Menurut definisi saya pribadi, cinta itu perasaan yang paling tinggi, yang tidak bisa diartikan secara umum karna pada dasarnya cinta tak punya batasan, dan hanya ada jawabannya pada diri masing-masing setiap manusia. Jika harus mengurutkan ‘perasaan’, saya akan meletakan rasa kagum di urutan paling dasar, kemudian diatasnya adalah rasa suka, naik lagi menjadi rasa saying, dan barulah rasa cinta. Beberapa dari teman-teman saya atau bahkan beberapa diantara anda ada yang berfikiran bahwa rasa sayanglah yang menempati urutan teratas. Tapi lihatlah penjelasan-penjelasan berikut ini.

Rasa kagum terjadi pada orang-orang yang cenderung dilihat sekilas, baik orang yang dikenal maupun tidak. Contohnya bisa dilihat pada saat kita melihat penyanyi dengan bakatnya yang sangat bagus, maka dengan tidak sengaja kita akan merasa kagum kepadanya dan mungkin itu tidak akan berlangsung langgeng, karena rasa kagum ini sifatnya variable, ketika ada lagi penyanyi lain yang lebih berbakat ada kemungkinan kita akan mengaguminya dan melupakan penyanyi yang kita kagumi lebih dulu.

Rasa suka terjadi pada orang-orang yang pastinya sudah kita kenal, namun ada rasa suka yang hanya sebatas suka, ada juga rasa suka yang memang ingin memiliki. Contohnya ketika kita merasa nyaman berteman dengan lawan jenis kita, lama-kelamaan ada kemungkinan muncullah rasa suka. Namun ya itu tadi, bisa suka dengan sifatnya yang sangat pengertian, mungkin suka dengan kehadirannya yang selalu ada disaat kita butuhkan, dan bisa juga suka karena ingin memiliki. Dan menurut pengalaman saya, rasa suka belum bisa dikategorikan sebagai rasa sayang, karena rasa suka sepertinya lebih kepada hal-hal yang bisa dilihat dan belum sampai kepada melihat lebih jauh ke dalam hati.

Rasa sayang adalah rasa yang paling umum. Sehingga ada suatu peribahasa yang mengatakan “tak kenal, maka tak sayang”. Jadi, intinya, pada siapapun yang kita kenal, haruslah kita sayang. Sayang disini bukan harus saling menyayangi layaknya orang yang berpacaran, tapi memberikan perhatian, saling melengkapi kebahagiaan, itu sudah termasuk rasa sayang. Contohnya sudah terjadi pada semua teman-teman kita, kerabat, sahabat, dan saudara-saudara kita. Jika tidak ada rasa sayang, kita tidak mungkin bersedih ketika mereka mengalami kesusahan atau misalnya ada salah satu dari mereka yang lebih dulu meninggal, dan kita juga tidak mungkin turut senang ketika salah satu dari mereka mendapat kebahagiaan. Bila kita dapat saling menyayangi, coba bayangkan sudah berapa ratus ribu orang yang sudah kita sayang dan menyayangi kita? Makanya beruntunglah bagi mereka orang-orang yang mudah bergaul, karna dengan begitu mereka akan dengan mudah pula mendapat teman-teman baru dan bisa mengikat tali kasih sayang yang baru.

Rasa cinta adalah rasa yang paling spesifik. Cinta hanya terjadi pada orang-orang pilihan. Tapi tetap saja cinta yang paling utama adalah cinta kepada Tuhan dan Orang tua. Diluar dari itu, pasti ada beberapa orang yang juga kita cintai. Memang kita tidak boleh mencintai manusia melebihi cinta kepada Allah dan Rasul, namun maksud cinta disini adalah cinta yang lebih kepada cinta hatinya. Sehingga tidak mungkin cinta kepada manusia melebihi cinta kepada Tuhan, karena hati manusia mana mungkin disejajarkan dengan hati Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Makanya menjadi tidak bisa disalahkan ketika ada peribahasa yang menyebutkan bahwa “Cinta Itu Buta”. Itu memang benar terjadi, dan bisa kita lihat implementasi secara tidak langsungnya didalam kehidupan sehari-hari. Contohnya ketika kita melihat sepasang kekasih, misal laki-lakinya berpenampilan sangat jelek, dengan motor vespa seadanya dan uang yang pas-pasan, namun ia berpacaran dengan wanita yang sangat cantik, dengan rambut panjang lurus alami dan kulit putih mulus. Apa hal yang pertama kali kita fikirkan?? Pasti tak jauh dari “ih, kok itu cewek mau-maunya yah?”, atau “ya ampun, cewek cantik tapi ko pacaran sama cowok jelek gitu yah? Kayak gak ada cowok lain lagi aja!”. Dan itulah adanya Cinta. Coba Tanya beberapa teman anda yang sudah memiliki kekasih yang menurut anda sangat jelek. Tanyakanlah mengapa ia bisa mencintai kekasihnya? Jika Ia tak bisa menjawab, maka memang benar bahwa cinta itu buta dan seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, hanya perasaan masing-masing manusia saja yang bisa menjawabnya.

Cinta sendiri ada dua macam, yaitu cinta pertama dan cinta terakhir. Menurut definisi saya lagi, cinta pertama adalah cinta yang tak akan pernah bisa dilupakan, dan cinta pertama tidak sama dengan pacar pertama. Sedangkan cinta terakhir adalah cinta yang tak akan pernah bisa dilepaskan, walaupun mungkin kenangan yang terjadi tidak seindah cinta pertama (karena kenangan di cinta terakhir ‘mungkin saja’ merupakan hasil contekan dari cinta pertama).

Saya sudah menemukan cinta pertama saya, namanya Dicky Azela. Setelah lama ‘merantau’ di dunia percintaan, baru bersamanyalah saya bisa mengerti dan mulai merasakan cinta yang sesungguhnya, dan jujur saja sampai hari saya tidak bisa melupakan segala kenangan waktu kita masih bersama. 1,5 tahun bersama bukanlah waktu yang mudah untuk menjalani hubungan yang ‘backstreet’. Tapi dari backstreet itulah hubungan kami menjadi sangat indah. Banyak hal-hal yang ia berikan, dan bukanlah hal yang materi. Sehingga sesuatu yang sederhana pun begitu sangat berharga bagi saya. Kejutan-kejutan yang ia berikan tak pernah gagal dan bahkan selalu membuat saya menangis. Jika harus saya paparkan disini, mungkin tidak akan cukup saya sebutkan satu-satu. Dan sangat kebetulan hari ini adalah hari dimana kami jadian 4 tahun yang lalu.

Untuk cinta terakhir, saya sepertinya belum tahu apakah kekasih saya ini akan menjadi cinta terkahir saya atau tidak. Namun bila dilihat dari definisinya sendiri, saya memang tidak bisa lepas dari kekasih saya ini, sehingga seperti yang disebutkan di salah satu lirik lagu, saya memang sudah sangat bergantung kepadanya. Sehingga, ia bisa menjadi beberapa karakter. Ia bisa menjadi sahabat untuk bercerita, teman belajar, tempat berkonsultasi dan curhat, sobat jalan-jalan, sopir yang setia mengantarkan saya kemanapun, bisa dikatakan hampir semua fungsi yag seharusnya ada di teman-teman saya, bisa ia rangkum. Dan ini membuat saya rasanya tidak perlu lagi untuk terlalu lama memanjakan diri saya dengan teman-teman saya di SMS maupun di kampus. Karena sebenarnya fungsi daripada kekasih saya ini bisa dibilang lebih perfect dari teman-teman saya. Ia selalu menerima saya apa adanya, dan menerima segala bentuk sifat saya yang cenderung berubah-ubah. Jadi, apa jadinya bila saya harus kehilangan dia?? Karena selama ini diam-diam saya coba melirik laki-laki lain yang ada di sekitar saya, namun memang benar, tak ada yang bisa seperti dia. Maka bila kami berjodoh, insya allah saya akan menjadikan dia, Arief Rachman Maulana, sebagai cinta terakhir saya.
Sepertinya dari penjelasan dan sedikit cerita saya diatas, sudah bisa memberikan bayangan tentang cinta yang lebih ditekankan lagi pada cinta pertama dan cinta terakhir. Padahal sebenarnya rasa cinta tidak akan pernah bisa diutarakan, karena (kembali lagi) hanya hati masing-masing manusia saja yang bisa menjelaskan dan menjawab segala bentuk pertanyaan soal cinta yang diajukan. Bila ada pendapat lain, bisa diutarakan disini, terima kasih sudah mau membaca :)