Senin, 21 Maret 2011

Dampak REPELITA VII Terhadap Perekonomian


penyusunan Repelita VII akan berpedoman kepada GBHN 1998 yang setelah pemilihan umum nanti baru akan dirumuskan oleh para wakil rakyat. Namun rumusan pokok-pokok pikiran dalam PJP II yang telah kita miliki sewaktu menyusun Repelita VI, kiranya dapat menjadi bahan acuan dalam melihat gambaran masyarakat Indonesia pada akhir Repelita VII.

Kata kunci yang terpatri dalam pelaksanaan pembangunan nasional dan telah ditetapkan menjadi sasaran jangka panjang adalah kemajuan, kemandirian, keadilan, dan peningkatan kesejahteraan. Dalam Repelita VII, sasaran itu ingin dicapai dengan meletakkan titik berat pembangunan pada bidang ekonomi seiring dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Titik berat pembangunan ini memang berbeda dengan tahapan pembangunan terdahulu yang hanya meletakkannya pada bidang ekonomi. Namun, pergeseran paradigma itu sebenarnya menunjukkan perkembangan kemajuan pembangunan.

Dengan mengenali berbagai tantangan itu, dan berbekal modal hasil-hasil pembangunan yang telah kita capai selama ini kita merancang upaya pembangunan dalam Repelita VII. Dalam Repelita VII, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan cukup tinggi yaitu rata-rata diatas 7 persen per tahun. Sementara itu laju pertumbuhan penduduk kita harapkan akan terus turun hingga mencapai 1,4 persen per tahun menjelang akhir Repe lita VII.6 Jika kedua sasaran tersebut dapat dicapai maka pendapatan per kapita Indonesia tahun 2003 diharapkan akan meningkat menjadi hampir 1,8 kalilipat dibanding dengan tahun 1993, atau menjadi sekitar US$1.400 berdasarkan harga konstan US$ 1993 atau sekitar US$2.000 pada harga yang berlaku.
Dengan sasaran itu, kita akan memantapkan diri berada di kelas pendapatan menengah menurut klasifikasi Bank Dunia.

Berbagai proses transformasi akan menyertai pertumbuhan ekonomi tersebut. Transformasi struktur produksi akan tercermin pada peran sektor pertanian yang akan terus turun, tetapi harus kita upayakan tidak terlalu cepat. Peran sektor industri pengolahan, yang dewasa ini sudah melebihi 25 persen, akan terus meningkat. Dengan besaran-besaran yang demikian pada waktu itu Indonesia sudah tergolong negara industri baru. Seperti halnya dengan sektor industri pengolahan, peran sektor jasa juga akan mengalami peningkatan.

Sektor pertanian diupayakan untuk dapat tumbuh rata-rata di atas 3 persen per tahun. Pertumbuhan tersebut utamanya berasal dari produk yang permintaannya naik dengan cepat, baik untuk konsumsi dalam negeri, maupun diproses lebih lanjut oleh industri pengolahan da lam negeri untuk kemudian diekspor. Sektor industri diharapkan dapat tumbuh rata -rata di atas 10 persen per tahun. Pada sektor industri ini juga akan terjadi perubahan komposisi, dari industri ringan7 menjadi makin banyak ke industri berat.

Proses transformasi juga akan terjadi dalam struktur permintaan domestik. Sumbangan pengeluaran konsumsi rumah tangga akan makin menurun, sementara itu hasrat menabung makin meningkat, dengan makin tingginya pendapatan per kapita. Sejalan dengan makin menurunnya persentase konsumsi masyarakat, maka persentase pengeluaran investasi akan me ningkat. Peningkatan investasi ini yang akan mendukung pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dalam Repelita VII. Hal ini juga menunjukkan peningkatan kemandirian pembangunan bangsa.

Dengan makin baiknya daya dukung ekonomi, maka diharapkan terjadinya perbaikan dalam perdagangan internasional. Kemampuan ekspor akan makin membaik dengan makin kuatnya daya saing produk anatr negara. Di lain pihak, impor barang-barang konsumsi akan terus kita tekan karena kemampuan produksi dalam negeri yang meningkat. Dengan demikian, keseimbangan neraca pembayaran akan dapat dijaga dalam batas-batas yang aman.

Dengan struktur perekonomian demikian, daya tahan ekonomi Indonesia akan makin kuat. Stabilitas ekonomi akan makin mantap seiring dengan kebijaksanaan ekonomi makro yang berhatihati. Kemandirian ekonomi juga akan makin diperkuat dengan terus membatasi ketergantungan terhadap sumber dana pembangunan dari luar yang akan makin terba tas. Indonesia akan terus menggali sumber-sumber pendapatan dalam negeri yang potensinya masih sangat besar. Di samping itu, kemajuan ekonomi juga diperkuat oleh proses akumulasi atau peningkatan kapasitas produksi nasional yang akan tercermin dalam peningkatan investasi sumber daya manusia dan investasi secara fisik yang tercermin melalui capital deepening. Dari sudut ketenagakerjaan, makin banyak tenaga kerja Indonesia yang akan bekerja di luar sektor pertanian. Sektor industri akan makin diandalkan sebagai penyerap tenaga kerja dan secara bertahap nantinya akan menggantikan peran sektor pertanian. Ini bukan berarti bahwa sektor pertanian menjadi sektor yang tidak penting. Sektor ini masih tetap akan menyerap tenaga kerja yang paling besar. Pada akhir Repelita VII, tenaga kerja yang bekerja di sektor pertanian masih akan sebesar 39 persen.

Masalah tenaga kerja, sejalan dengan peningkatan kualitasnya, akan berkembang ke arah tenaga kerja white collar, dari tenaga kerja yang pada saat ini sebagian besar terdiri dari blue collar. Selain itu, tenaga kerja kita juga akan lebih banyak bergerak di kegiatan formal yang lebih produktif dibandingkan di kegiatan informal, yang saat ini jumlahnya diperkirakan lebih dari 36 juta. Unsur yang teramat penting dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia ini selain kesempatan kerja adalah pendidikan, dan kesehatan. Di bidang pendidikan, pada Repelita VII program wajib belajar 9 tahun akan makin mantap. Pendidikan terendah rata-rata penduduk Indonesia akan mengarah pada tingkatan sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP).

Menapaki tahap pembangunan nasional berikutnya Indonesia perlu menghimpun sebanyak-banyaknya modal pembangunan yang dimiliki, yakni hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai serta mengenali berbagai tantangan yang sedang dihadapi. Berbekal modal dan pengenalan tantangan ini Indonesia mengembangkan potensi yang dimiliki dan memanfaatkan setiap peluang.

Atas dasar itu, rencana pembangunan nasional disusun untuk kemudian kita laksanakan dan kita wujudkan. Perlu saya ingatkan lagi bahwa saat ini kita tengah mempersiapkan penyusunan Repelita VII, dan apa yang saya uraikan tadi belumlah merupakan gambaran yang lengkap. Hasil akhir dari penyusunan ini baru akan terwujud setelah GBHN 1998 tersusun. Namun, gambaran awal ini saya sampaikan untuk kita cermati bersama, untuk kita renungkan apakah sudah menuju ke arah yang seharusnya dan mendekatkan kita kepada amanat pendirian Republik ini.